PROMO SUZUKI MOBIL DEPOK Dapatkan promo mobil suzuki terbaru dan terlengkap. PROMO SUZUKI MOBIL DEPOK Unit Ready Stock PROMO SUZUKI MOBIL DEPOK Diskon & Hadiah berlimpah PROMO SUZUKI MOBIL DEPOK Proses Cepat PROMO SUZUKI MOBIL DEPOK
Menu
Model
Beranda » News » Mengapa mobil listrik mahal?

Mengapa mobil listrik mahal?

Dipublish pada 4 April 2022 | Dilihat sebanyak 19 kali | Kategori: News

Jakarta (ANTARA) – Semua pabrikan besar otomotif dunia mulai menggenjot produksi serta pemasaran mobil listrik, dan rasanya kebanyakan konsumen juga menginginkannya, cuma harga yang masih mahal dibanding mobil konvensional membuat konsumen berpikir dua kali untuk membeli.

Belum lagi persoalan masih minimnya infrastruktur pendukung, utamanya pengisian daya listrik umum, di jalur-jalur utama. Sejauh ini baru ada beberapa di DKI Jakarta dan sekitarnya, padahal ini perlu ada di seluruh wilayah Indonesia.

Baca juga: IT PLN lakukan tiga langkah besar untuk hasilkan SDM berkualitas

Mengesampingkan dulu soal kesiapan infrastruktur, hal lain yang perlu masyarakat ketahui saat ini, salah satunya adalah “mengapa mobil listrik mahal?” Apa yang membuat mobil listrik lebih mahal dibanding kendaraan bermesin pembakaran konvensional?

Menurut studi Financial Times, mobil listrik akan “jauh lebih mahal” bagi pembuat mobil Eropa untuk memproduksinya ketimbang model pembakaran internal sampai setidaknya satu dekade (10 tahun) ke depan.

Meskipun total biaya produksi mobil listrik kompak akan turun lebih dari seperlima pada 2030 menjadi 16.000 euro (Rp254 juta), itu masih 9 persen lebih tinggi daripada mobil bensin atau diesel yang sebanding (di kelasnya), menurut data yang dikumpulkan Oliver Wyman untuk Financial Times.

Biaya pembuatan mobil pembakaran internal diperkirakan tidak akan turun banyak, tetapi mobil itu sendiri semakin mahal karena pembeli menuntut “interior mewah dan bahan yang bersumber lebih berkelanjutan” atau ramah lingkungan, kata para pengamat.

Mobil listrik memang pada saatnya akan mencapai paritas harga dengan model pembakaran internal, hanya saja tidak segera, menurut penelitian tersebut.

Baca juga: Pesona deretan mobil baru di IIMS Hybrid 2022, ini daftarnya

Pasar EV

Penjualan mobil listrik (electric vehicle/EV) pada 2021 mencapai 6,75 juta unit, naik 108 persen dibanding 2020, menurut laporan EV Volume. Sementara Statista melaporkan angka sedikit berbeda, yakni 6,6 juta unit, lebih dua kali penjualan 2020 yang berkisar 3 juta unit.

Volume 6,75 juta, laporan EV Volume itu, mencakup kendaraan penumpang, truk ringan, dan kendaraan niaga ringan. Pangsa global EV berbasis baterai dan plug-in hybrid (BEV & PHEV) dalam penjualan kendaraan ringan global adalah 8,3 persen dibandingkan 4,2 persen pada 2020.

BEV mencapai 71 persen dari total penjualan EV, PHEV sebesar 29 persen. Pasar mobil global meningkat hanya 4,7 persen selama tahun krisis 2020. Seperti pada 2020, EV kembali tahan terhadap kemunduran dalam permintaan dan pasokan mobil.

Pertumbuhan mobil listrik memang menggembirakan di tengah pasar mobil global yang relatif stagnan pada 2020 akibat pembatasan dan dampak langsung COVID-19, tapi pada 2021 kembali pada tren yang baik.

China khususnya mengalami tahun terobosan pada 2021, dengan penjualan hampir tiga kali lipat dari 1,2 juta menjadi 3,4 juta unit mobil listrik, menurut Statista.

Baca juga: Hyundai kenalkan mobil listrik Ioniq 5 buatan pabrik Cikarang

Mobil listrik Hyundai Ioniq 5 yang juga sudah diluncurkan di Indonesia. (ANTARA/Hyundai)

Eropa tetap menjadi pasar terbesar kedua untuk mobil listrik, dengan pendaftaran baru meningkat hampir 70 persen menjadi 2,3 juta unit, di mana setengahnya merupakan model plug-in hybrid.

Di Amerika Serikat, penjualan melampaui setengah juta untuk pertama kalinya, tetapi pangsa pasar keseluruhan kendaraan listrik tetap jauh di bawah China dan banyak pasar Eropa.

Menurut International Energy Agency (IEA), China, Eropa, dan Amerika Serikat menyumbang sekitar 90 persen dari penjualan mobil listrik global, yang menggambarkan bahwa e-mobilitas tidak berkembang dengan kecepatan yang sama secara global.

Kebijakan pemerintah tetap menjadi kekuatan pendorong utama untuk pasar mobil listrik global, tetapi dinamisme mereka pada tahun 2021 juga mencerminkan tahun yang sangat aktif di industri otomotif.

Tesla sebagai pemimpin di pasar mobil listrik berbasis baterai (BEV) mencatatkan penjualan global 936.000 unit pada 2021, menguasai 21 persen pasar global segmen ini. Penyumbang terbesar penjualan Tesla adalah Model 3 yang dipasarkan dengan harga 35.000 dolar atau sekira Rp503 juta per unit.

Selain Tesla, duduk di lima besar penjualan terbesar mobil listrik tahun lalu adalah Volkswagen Group (757.994 unit), SAIC (termasuk SAIC-GM-Wuling) 683.986 unit, BYD 593.878 unit, dan Stellantis (hasil merger FCA dan PSA) 360.953 unit. Kelimanya mengusai 51 persen pasar global, menurut Inside EVs.

Baca juga: Pemimpin otomotif Inggris sebut China mainkan peran utama dalam elektrifikasi industri mobil

Biaya baterai

Jawaban dari kenapa mobil listrik mahal adalah komponen baterai. Baterai masih menjadi biaya ongkos produksi utama (terbesar) dalam sebuah kendaraan listrik dan akhirnya berpengaruh besar pada harga jual.

Menurut penelitian International Council on Clean Transportation (ICCT) pada 2019, biaya pembuatan sel baterai mencapai hingga 70 persen hingga 75 persen dari total ongkos produksi baterai secara keseluruhan.

Berdasarkan pernyataan produsen mobil Volkswagen, General Motors, dan Tesla, rata-rata biaya produksi baterai berbahan nikel kombalt aluminium oksida (NCA) pada 2018 berkisar antara 100 dolar (Rp1,4 juta) hingga 150 dolar (Rp2,1 juta) per kWh (kilo Watt hour).

Sedangkan untuk yang berbahan nikel mangan kobalt (NMC) yang diproduksi lebih terbatas, biayanya mencapai 150 dolar (Rp1,4 juta) hingga 200 dolar (Rp2,8 juta) per kWh. Artinya, semakin tinggi kapasitas baterai dan semakin jauh jangkauan kendaraan listrik, biayanya kian besar.

Sistem baterai moduler General Motors, Ultium.

Baca juga: PLN akan manjakan pemilik mobil listrik dengan layanan ‘home charging’


Tapi dengan semakin berkembangnya teknologi yang tentu saja dibarengi dengan produksi massal baterai, maka ongkos produksi akan semakin rendah. Ini membutuhkan keseimbangan antara ongkos produksi dengan jumlah produksi yang dihasilkan untuk mencapai harga lebih murah.

Oleh karena itu, kemudian muncul perkiraan ongkos pembuatan baterai yang semakin rendah. Ongkos produksi baterai diperkirakan akan turun menjadi 130 dolar hingga 160 dolar per kWh pada 2020-2022, kemudian menjadi 120 dolar (Rp1,7 juta) hingga 135 dolar (Rp1,9 juta) pada 2025.

Tesla menyatakan akan bisa mencapai 100 dolar/kWh pada tahun 2022, terkait dengan paket baterai berbasis teknologi NCA dan berdasarkan volume produksi yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Survei industri BloombergNEF (BNEF) menunjukkan biaya produksi paket baterai akan turun menjadi 62 dolar (Rp891.000) per kWh pada 2030.

Dengan pendekatan kolaborasi produsen otomotif dengan pembuat baterai yang semakin banyak diterapkan belakangan ini, pemilihan bahan dan teknologi yang makin murah, ditambah volume produksi EV yang diperkirakan terus meningkat, jelas bakal membuat ongkos baterai dan harga mobil listrik lebih terjangkau.

Semoga, dengan pasar kendaraan listrik tahun ini–yang menurut perkiraan Gartner–mencapai 6,3 juta unit secara global akan dibarengi dengan harga yang semakin terjangkau serta infrastruktur yang semakin baik di berbagai penjuru negeri di dunia.

Baca juga: Menteri Airlangga: PLN punya pasar besar untuk kendaraan listrik

Baca juga: PLN dukung Toyota kembangkan mobil listrik di Indonesia

Baca juga: Menko Airlangga: Tiga pabrikan siap luncurkan mobil listrik tahun ini

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2022

Bagikan

Belum ada komentar

Artikel Menarik Lainnya

Jeep Compass 2022 meluncur dengan harga Rp700 jutaan

Dipublish pada 1 December 2021 | Dilihat sebanyak 56 kali | Kategori: News

Jakarta (ANTARA) – PT DAS Indonesia Motor resmi menghadirkan Jeep Compass 2022 ke Indonesia dengan berbagai fitur dan juga teknologi canggih di dalamnya dengan harga Rp780 juta on the road Jabodetabek. COO DAS Indonesia Motor, Dhani Yahya mengungkapkan bahwa negara... selengkapnya

Daihatsu ajukan lima model mobil untuk relaksasi PPnBM

Dipublish pada 11 February 2022 | Dilihat sebanyak 68 kali | Kategori: News

Jakarta (ANTARA) – Sebelumnya, pemerintah resmi perpanjang masa pemberian insentif PPnBM-DTP untuk kendaraan bermotor. “Statusnya saat ini kami baru mendaftarkan, kami sedang menunggu approval dari Kemenperin. Jadi mari kita tunggu informasi selanjutnya, apakah model dan varian yang diajukan oleh Daihatsu, baik... selengkapnya

Bajaj-Husqvarna akan mulai produksi motor listrik di Juni nanti

Dipublish pada 4 January 2022 | Dilihat sebanyak 46 kali | Kategori: News

Jakarta (ANTARA) – Perkembangan teknologi dan era kendaraan listrik tidak hanya diminati oleh industri kendaraan roda empat, roda dua dalam hal ini seperti yang dilakukan oleh Bajaj yang berkolaborasi dengan Husqvarna akan memulai produksi motor listrik pertamanya di Juni 2022... selengkapnya

Our Office

PT. Sejahtera Armada Trada
Jl. Margonda Raya No.373, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16242

Live Chat
Online Senin-Sabtu (08:00 – 16:00) WIB

Lorem Ipsum Dolor Sit Amet

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent consectetur purus sed risus molestie porta. Integer leo diam, pretium auctor tellus a, semper laoreet urna.

In vestibulum ante quis laoreet volutpat. In lacus lacus, ultrices at leo vitae, fringilla blandit quam.